Alih Bahasa

Jumat, 10 Desember 2010

250 Huntara untuk Warga Kali Code

Neni Ridarineni
(Sumber: http://republika.co.id:8080/koran/Jumat, 10 Desember 2010 pukul 09:39:00)
Ilustrasi: Rumah Pinggir Kali Code
di Cokrodiningkratan, Jetis
 (Sumber: www.vivanwes.com)

YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemprov DIY akan membangun hunian sementara (huntara) untuk warga di bantaran Kali Code. Sedikitnya akan dibangun 250 huntara sebagai antisipasi luapan lahar dingin dari Merapi. 
          "Gubernur sudah menyetujuinya dan saat ini sedang didiskusikan dengan Provinsi DIY  tentang proses teknisnya, sambil menunggu masyarakat yang berminat," kata Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, pada wartawan seusai melakukan Rapat Koordinasi dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, di Kepatihan Yogyakarta, Kamis (9/12).
          Herry mengatakan, huntara tersebut sedikitnya untuk sekitar 250 kepala keluarga (KK) dan titiknya terpencar-pencar. Huntara ini diutamakan bagi warga yang tinggal di wilayah yang geografisnya paling rendah. 
          Dijelaskannya, dari data tanggal 29 November 2010, yang termasuk rawan I sejumlah 250 KK. Angka ini bisa lebih dan bisa ataupun kurang. "Tergantung nanti jika terjadi banjir besar radiusnya berapa. Jadi, nantinya ditawarkan kepada masyarakat bagi yang tidak mau jantungan setiap hari akibat bahaya banjir bisa mendaftarkan untuk tinggal di huntara," katanya.
          Selain itu, Herry mengatakan, pihaknya juga meningkatkan early warning system. "Sehingga nantinya masyarakat bisa belajar dan akan lebih punya peran dengan informasi yang tersedia, misalnya bila ketinggian segini, dia harus segera waspada. Kalau hanya dengan megaphone, dengan teriak-teriak 'evakuasi-evakuasi', hal itu tidak efektif," katanya. 
          Menangani bencana Merapi, menurut Herry, lebih capek dibandingkan penanganan gempa bumi 2006 lalu. Apalagi, jumlah material yang datang dari Merapi lebih besar daripada yang dikeruk. Jumlah material yang dikeluarkan sekitar 34 juta meter kubik, sedangkan kemampuan bego untuk mengeruk material pasir hanya ribuan meter kubik . "Hal itu ibarat lemper yang dimakan saupo-upo (dimakan sebutir demi sebutir--Red)," tutur Herry.
          Sementara itu Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, pihaknya memang menawarkan huntara kepada pemerintah kota dan  tanah milik Pemerintah Provinsi DIY, yaitu di depannya kantor Pusdalop. Mengenai gambar dan jumlah huntaranya belum dipastikan.
          "Saya belum tahu jumlahnya berapa, tetapi kalau tidak cukup akan dibuat seperti barak," katanya. Mengenai dananya, menurut Sultan, akan ada pembagian antara Pemkot Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi DIY. Termasuk dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) jika bersedia, juga akan diminta ikut mendanai. ed: joko sadewo



Rabu, 08 Desember 2010

Warga Code Banyak Yang Terserang Penyakit

(Sumber: www.krjogja.com, Rabu, 08 Desember 2010 20:12:00)
Warga Siaga Banjir Kali Code
YOGYA (KRjogja.com) - Dampak meluapnya Kali Code akibat lahar dingin Gunung Merapi tidak hanya berupa banjir atau rusaknya rumah warga. Menurut Joko, salah seorang warga Tegalpanggung, saat ini beberapa warga terutama anak-anak, mulai terserang penyakit. Umumnya mereka menderita penyakit diare, sesak napas, dan batuk-batuk. Sampai saat ini, diperkirakan sudah ada 20 anak yang membutuhkan perawatan kesehatan lanjutan.
            Joko mengatakan bahwa usai banjir lahar dingin menyusut, banyak anak-anak yang bermain di Kali Code. “Mungkin karena merasa aneh, jadi penasaran dan bermain-main,” terangnya kepada KRjogja.com, Rabu (8/12). Padahal, lahar dingin tersebut membawa material yang berbahaya bagi kesehatan seperti belerang, bangkai, dan pohon-pohon yang bertumbangan dan telah menjadi sarang binatang.
            Akibat banyak anak-anak yang terkena penyakit, kini orangtua mulai melarang anak-anak bermain di Kali Code. “Kami tidak ingin ada pengaruh dan dampak yang lebih buruk, makanya anak-anak sekarang diamankan di rumah atau tempat yang lain agar tidak bermain air Code,” paparnya. Anak yang terserang penyakit umunya berusia 3 hingga 15 tahun.
            Karena banyak anak yang terkena penyakit, warga pun menghubungi Puskesmas terdekat. “Sekarang sudah ditangani, namun kami berharap tetap ada penyuluhan yang lebih komplit mengenai bahaya penyakit akibat lahar dingin,” ungkap Joko.
            Selama ini, warga hanya mendapat pengetahuan mengenai mitigasi bencana akibat lahar dingin. Sementara untuk efek lebih lanjut, tidak pernah disosialisasikan. (*-7)

Warga Bantaran Hulu Kali Code Sempat Mengungsi

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Fajar S Kurniawan & Hendra Krisdianto
(Sumber: www.tribunnews.com - Rabu, 8 Desember 2010 19:19 WIB)
KEMBALI BANJIR - Suasana kali code menjelang senja saat terjadi banjir dingin Gunung Merapi yang melalui Kali Code diabadikan dari jembatan Jetis, Kota Yogyakarta, Rabu (08/12/2010). Banjir yang terjadi kali ini tidak sampai melebihi talud, namun warga sudah bersiap untuk mengungsi

       TRIBUNNEWS.COM, JOGJA - Banjir lahar di Kali Boyong yang merupakan hulu Kali Code itu, Rabu (8/12/2010) memaksa sebagian warga yang tinggal di bantaran sungai mengungsi. Banjir lahar itu beberapa saat terdengar menakutkan akibat gemuruh aliran material pasir dan batu besar yang menggelontor dari hulu sungai di Merapi.
          "Warga yang tinggal di bantaran sungai dievakuasi ke daerah yang aman," kata Edi Haryono (41), warga Candibinangun, Sleman. Ketinggian air mencapai satu meter dan ada yang melimpas ke pekarangan warga.            Sebagai antisipasi, petugas dari Polres Sleman menutup ruas jalanTuri-Pakem selama lebih kurang satu jam. "Sistem buka tutup kepada pengguna jalan yang melewati jembatan cekdam Kali Boyong antara Turi dan Pakem," kata Ipda Edwin nathanael (23), anggota Polres Sleman di lokasi penutupan.(*)

Editor: kisdiantoro


Peluit dan Kentongan Bersautan di Pinggir Kali Code

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Ade R/Putri P/Gaya L/Hendy
(Sumber: Tribunnews.com - Rabu, 8 Desember 2010 18:54 WIB)
Ilustrasi
       TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Lahar dingin di Kali Code Kota Jogja meluap ke beberapa titik perkampungan yang berada di bantaran sungai tersebut, Rabu (8/12/2010). Peluit dan kentongan tanda bahaya bersahutan, sebagian warga pun mulai meninggalkan rumah mereka.           Pantaun di bantaran Kali Kode kawasan Gondolayu, lahar dingin sudah melewati tanggul kantong pasir yang dibuat warga. Meski masih ada beberapa warga yang masih bertahan, namun sebagian besar sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Sedangkan di kawasan Terban, lahar dingin masih berada di bibir tanggul. Meski begitu, terlihat warga sudah siap meninggalkan rumah mereka. “Di sini ketinggian air masih aman. Tapi kami kahwatir ada banyak batu dan batang pohon yang terbawa,” kata I Wayan mandra, anggota polisi yang bertugas di kawasan Jembatan Sarjito.
          Di Kawasan bantaran Kali Code Blunyah, dan di kawasan Kota Baru, lahar dingin sudah memasuki rumah warga. Warga juga sudah meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke beberapa tempat yang lebih tinggi.           Bahkan, jembatan Gemawang sudah ditutup untuk menghindari kemungkinan meluapnya air ke atas jembatan. “Khawatir ada batu dan batang pohon dari atas (kawasan Merapi,” kata Surahman, anggota Rescue 328 yang bertugas memantau di kawasan itu. (*)

Editor: kisdiantoro


Kali Code Akan Dipasangi Alarm Banjir

Laporan wartawan KOMPAS Mohamad Final Daeng
(Sumber: Kompas.com, Rabu, 8 Desember 2010 | 17:14 WIB)
Ilustrasi: www.kompas.com
       YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kota Yogyakarta berencana memasang sistem peringatan dini banjir lahar dingin di sepanjang Kali Code. Hal ini untuk memberikan informasi yang cepat dan seragam kepada warga bantaran Code terkait ancaman bahaya sekunder pascaerupsi Gunung Merapi tersebut.
            "Dalam minggu ini kami berfokus untuk mempersiapkan sistem peringatan dini itu. Ini penting karena k ita tidak tahu sampai kapan banjir lahar dingin akan terus mengancam Code," kata Walikota Yogyakarta Herry Zudianto di Balaikota Yogyakarta, Rabu (8/12/2010).
            Herry menjelaskan, sistem peringatan dini itu nantinya akan mencakup sistem komunikasi yang tersentra l di posko penanggulangan bencana banjir Code yang dimiliki Pemerintah Kota Yogyakarta. Dari situ, informasi akan diteruskan ke warga melalui pengeras-pengeras suara yang akan dipasang di sepanjang 6 Km bantaran Code di wilayah Yogyakarta.
            Sistem itu akan langsung memberikan peringatan kepada warga, khususnya terkait informasi ketinggian air di hulu Code, yang dipantau aparat Pemkot. Hal ini penting sebagai patokan bagi warga kapan harus mengungsi dan kapan tidak.
            Informasi satu pintu itu diharapkan Herry juga akan menjadi patokan resmi bagi warga dalam bertindak. Pasalnya, selama ini, warga mendapat banyak sumber informasi terkait banjir lahar dingin yang terkadang malah membingungkan mereka.


Selasa, 07 Desember 2010

Banjir Lahar Ancam Yogyakarta hingga April

(Sumber: http://news.okezone.com/ Selasa, 7 Desember 2010 - 04:39 wib)
Ilustrasi: Kalicode jadi gedhe

YOGYAKARTA - Banjir lahar dingin dipastikan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Hal itu karena wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sebagian Jawa Tengah sudah memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi.     Hujan deras yang terjadi setiap saat akan secara bertahab membawa sekitar 170 juta meter kubik muntahan material vulkanik Merapi yang mengendap di beberapa sungai yang berhulu di gunung tersebut.
                Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Budi Waluyo menjelaskan beberapa kali hujan yang mengguyur wilayah DIY dan sebagian Jateng masuk kategori ekstrem atau hujan yang sangat lebat dengan durasi yang lama.Hujan ekstrem terjadi jika intensitasnya berada di atas 100 milimeter, sedangkan normal antara 50 sampai 100 mm. Curah hujan dengan intensitas tinggi diperkirakan terjadi hingga April depan.
                ”Dengan kondisi hujan lebat, bahaya banjir lahar dingin menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang berada di sepanjang bantaran sungai, termasuk di Kali Code Yogyakarta.
Sudah tiga kali ini Kali Code meluap. Ini karena hujan lebat di wilayah atas (utara atau sekitar puncak Merapi),” ungkapnya, Senin (6/12/2010).
                Kemarin, mulai pukul 15.30 WIB, banjir lahar dingin kembali menerjang Kali Code. Luapan lahar menenggelamkan sejumlah perkampungan di sepanjang sungai tersebut. Kondisi terparah terjadi Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kecamatan Jetis, yang merupakan daerah terendah di sepanjang bantaran Kali Code. Banjir lahar dingin menggenangi kawasan perumahan yang berada di 4 RT di RW 10 hingga ketinggian sekitar 50 cm sampai 1 meter.
                Banjir lahar dingin dipicu hujan deras yang mengguyur sejak kemarin siang.Sekitar pukul 15.30 WIB, air Kali Code yang membawa material vulkanik mulai memasuki rumah-rumah warga. Ratusan warga yang berasal dari 4 RT di RW 10 Kelurahan Gowongan pun kembali diungsikan.
                ”Air mulai masuk rumah selepas asar. Lalu warga diungsikan ke tempat yang lebih aman,” kata ketua pemuda setempat, Fajar (24).

(Koran SI/Koran SI/ded)



Senin, 06 Desember 2010

Sultan Ingatkan Waspada Banjir Lahar Dingin

Laporan wartawan KOMPAS Erwin Edhi Prasetyo
(Sumber: www.kompas.com, Senin, 6 Desember 2010 | 17:13 WIB)
Sri Sultan HB X, Gubernur DIY
        YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X meminta warga bantaran Kali Code tetap menjaga kesiagaan terhadap banjir lahar dingin hingga Maret 2011.
            Letusan Merapi yang mengeluarkan material sekitar 140 juta meter kubik membuat ancaman banjir lahar dingin harus terus diwaspadai.
            "Banjir Kali Code tidak seperti biasanya. Yang ikut masuk ke rumah adalah material. Pengambilan pasir Kali Code harus lebih cepat dari aliran yang di atas," kata Sultan di Kepatihan, Yogyakarta, Senin (6/12/2010).
            Dampak Merapi juga sudah dirasakan Kabupaten Bantul. Sekitar 8 hektar sawah hancur terkena material yang dibawa aliran Kali Code.