Alih Bahasa

Jumat, 10 Desember 2010

Lahar Dingin Ancam 11 Desa di Bantul

(Sumber: www.krjogja.com., Jumat, 10 Desember 2010 14:13:00)
Ilustrasi: Kali Code di Bantul
(www.krjogja.com)

BANTUL (KRjogja.com) - Banjir lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi mengancam 20 pedukuhan yang ada di 11 desa di Bantul. Untuk mengantisipasinya, Kesbangpolinmas Kabupaten Bantul telah melakukan koordinasi dengan jajaran SAR, Tagana, Kepolisian dari Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.
          Kepala Kantor Kesbangpolinmas Kabupaten Bantul, Drs Edy Susanto mengatakan, wilayah yang terancam lahar adalah Desa Tirtonomolo (Dusun Glondong dan Dusun Jogonalan Kidul), Desa Sumbermulyo (Jombok Sinten), Trimulyo (Blawong), Panggungharjo (Krapyak dan Jaranan), Pendowoharjo (Cepit dan Nganglik), Bangunharjo (Ngoto dan Pandeyan), Pleret (Kanggotan), Wonokromo (Sarean dan Wonokromo I), Segoroyoso (Karet, Karanggayam, dan Dahromo), Banguntapan (Sorowajan Baru), dan Pundong (Seloharjo dan Srihardono).
          Menurutnya, masyarakat di daerah tersebut perlu waspada karena dilewati aliran Sungai Winongo, Sungai Opak, dan Kali Code. “Banjir lahar dingin sudah masuk ke 328 rumah dan 1475 warga saat ini menjadi pengungsi,” terangnya di Bantul, Jumat (10/12).
          Warga sendiri, tambahnya, saat ini kebanyakan mengungsi ke rumah tetangga meski pemerintah sudah menyediakan sedikitnya 11 titik pengungsian. Barak pengungsian tersebut berada di lokasi yang terbilang aman dan letaknya lebih tinggi dari rumah warga yang erada di bantaran sungai.
          Meski begitu, kebanyakan warga beralasan lebih nyaman berada disekitar rumah dan bisa langsung melakukan pembersihan jika banjir surut. Dia pun meminta kepada masyarakat untuk selalu waspada karena saat ini curah hujan sedang tinggi dan diperkirakan akan berlangsung hingga bulan Februari mendatang.
          “Informasi yang saya dapatkan, bahwa material yang terbawa air hujan dan memenuhi suang-sungai saat ini, volumenya belum seberapa, masih ada ancaman banjir lahar dingin,” ungkapnya.
          Edy menambahkan, total kerugian akibat banjir dingin sampai saat ini belum tuntas dihitung karena masih menunggu laporan dari masing-masih Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Untuk pertanian, tanggung jawab berada di Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Pekerjaan untuk infrastruktur, dan Dinas Sumber Daya Air untuk potensi yang berada di sungai. (*-7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar